GEJAYAN IBUKOTA CONDONGCATUR GELAR MERTI DUSUN “NAPAK TILAS SEJARAH” MERAWAT BUDAYA, MEM

25 Agustus 2025
Administrator
Dibaca 3 Kali
GEJAYAN IBUKOTA CONDONGCATUR GELAR MERTI DUSUN “NAPAK TILAS SEJARAH” MERAWAT BUDAYA, MEM

Dalam semangat kebersamaan dan penghormatan pada warisan leluhur, warga Padukuhan Gejayan Ditahun 2025 kembali menggelar Merti Dusun secara meriah dan penuh makna. Mengusung tema “Guyub Rukun Nglestari Budaya, Nyawiji Kanggo Tuwuhe Ekonomi Masyarakat,” rangkaian acara ini berlangsung selama hampir satu bulan, dimulai dari tanggal 27 Juli 2025 dan Puncak Acara Pagelaran Wayang Kulit, sesi Siang dengan dalang Ki Kiswan Dwinaeka mengambil lakon “Romo Tambak” dan Wayang Semalam Suntuk dengan dalang Ki Gading Pawukir Seno Saputro mengambil Lakon “ PendadaranPendidikan Pandawa Kurawa” dengan bintang Tamu Lintang Kairo dan Elisa Orcarus Alaso, Minggu 24 Agustus 2025,

Pancak acara adalah Pagelaran wayang Kulit dihadiri Bupati Sleman, Panewu Depok Bersama Forkompimka dan Lurah Condongcatur.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya secara Simbolis menyerahkan Wayang Kulit kepada Ki Dalang sebagai tanda dimulainya Pagelaran wayang kulit semalam suntuk dan berpesan kepada Ki Gading Pawukir bahwa Dalang muda, sebagai pewaris budaya

“Mari kita jaga dan lestarikan budaya kita melalui wayang. Dengan wayang, kita dapat menyampaikan pesan moral, nilai-nilai luhur, dan sejarah bangsa. Jangan ragu untuk berkreasi dan berinovasi, namun tetap jaga nilai-nilai budaya kita. Mari kita jadikan wayang sebagai sarana untuk membangun karakter bangsa dan melestarikan warisan budaya kita” ucapnya

Dukuh Gejayan, Nuryanto, S.Pd., M.IP, menjelaskan awal dari rangkaian kegiatan ini adalah Gotong Royong warga dalam Spirit Peringatan Kemerdekaan Indonesia menyatukan elemen sejarah, spiritualitas, seni, ekonomi, dan nasionalisme dalam satu tarikan napas kebudayaan.

“Kegiatan dimulai dengan kerja bakti massal antar-RW, dilanjutkan pemasangan bendera dan lomba-lomba kemerdekaan, yang menyatukan semangat peringatan HUT ke-80 RI dan upaya pelestarian budaya lokal. Momen Besik Wasono Loyo pada 10 Agustus 2005 dengan pembersihan makam leluhur menjadi penghormatan nyata atas para pendahulu selanjutnya Tanggal 16 dan 21 Agustus diisi dengan tirakatan dan doa bersama sebagai ungkapan syukur kolektif. Seluruh kegiatan ini menguatkan kesadaran spiritual, kebersihan batin, dan mempererat kebersamaan antarwarga lintas usia dan keyakinan” jelasnya

Ada Kirab Budaya dengan Bregada, kirab Pusaka, Gunungan, dan Identitas, Puncak haru sekaligus sakral terjadi pada Sabtu, 23 Agustus 2025, melalui Kirab Budaya dan Bregada Prajurit. Acara ini menjadi lambang penghormatan terhadap nilai luhur dan sejarah panjang dusun. Pusaka dusun diboyong dari kediaman Bapak LN Tri Jaka Pratistha, sesepuh yang disegani, dikawal bergodo prajurit Kakung- Putri, gunungan lanang-wadon, dan alunan gamelan Kaprajuritan Kesultanan Yogyakarta. Kirab menyusuri dusun, berhenti di kantor Dukuh, lalu menuju Bale’ Sembrama Buddhayah sebagai titik pusat kegiatan masyarakat.

Sebagai pucak acara dilaksanakan Kenduri,dan Pagelaran Wayang kulit pada hari minggu 24 Agustus 2025 Siang oleh Ki Kiswan membuka acara dengan lakon Romo Tambak edukatif bagi anak-anak dan keluarga, jam 14.00 WIB, Kenduri Dusun / Shodakohan digelar warga membawa tumpeng dan berkat dari rumah masing-masing, sebagai bentuk syukur dan doa bersama untuk kemakmuran dan keselamatan dan pada Malam harinya Pagelaran Wayang Kulit Malam semalam suntuk oleh Ki Gading Pawukir (Putra Ki Seno Nugroho) didukung seniwati muda Lintang Kairo dan Bintang tamu Sinden Elisa Orcarus, menyuguhkan lakon Pendadaran Murid Sokolimo. Pertunjukan ini tak hanya menghibur ratusan warga hingga dini hari, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai dharma, perjuangan, dan moralitas khas Jawa.

“Tradisi ini bukan hanya pelestarian masa lalu, tapi panduan hidup masa kini dan masa depan. Gejayan harus tetap hidup dalam nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.” Pungkas Nuryanto Dukuh Gejayan

Bazar UMKM sebagai symbol Ekonomi Rakyat Berdenyut digelar 22–24 Agustus menjadi magnet kegiatan. Lien Setyawati, Ketua Bidang UMKM, lebih dari 50 pelaku usaha lokal, termasuk dari Kelompok Wanita Tani Srikandi Mandiri, memamerkan produk kuliner, kerajinan tangan, hingga busana tradisional.

“ Melalui Merti Dusun, warga Gejayan bangga menjadi pelaku ekonomi, bukan hanya penonton. Kita dorong ekonomi keluarga tumbuh dari budaya sendiri.” Ucap Lien Setyawati

Dari Sejarah ke Spirit Kekinian

Menurut penuturan, R. Purwita dan R. Eko Suryono, tokoh adat sekaligus juru kunci makam Wasono Loyo Gejayan, Merti Dusun Gejayan bukan sekadar seremoni tahunan semata. Tradisi ini merupakan wujud penghormatan mendalam terhadap akar sejarah panjang yang melekat di wilayah Gejayan.
Gejayan tumbuh dari jejak para pahlawan dan tokoh legendaris, seperti Bendoro Pangeran Hangabehi, putra Sri Sultan Hamengku Buwono I sekaligus panglima pertahanan wilayah utara Kesultanan Yogyakarta. Sosok ini membuka pemukiman sekaligus membangun pertahanan kuat melawan kolonialisme di masa lampau. Selanjutnya, Panembahan Brajamusti atau yang dikenal juga dengan nama Raden Mas Jalmi, adalah pejuang spiritual sekaligus militer yang berperan penting membangun basis gerilya di Gejayan. Sementara itu, Kyai Joyoilani adalah tokoh pengayom masyarakat yang membentuk komunitas religius awal di padukuhan ini.

“Peristiwa-peristiwa kunci seperti ekspedisi militer ke lereng Gunung Merapi, pembukaan jalur logistik perang, dan keterlibatan dalam jaringan Perang Diponegoro menjadi fondasi spiritual dan historis yang kuat bagi masyarakat Gejayan hingga kini” jelasnya

Ditambahkan R. Purwita, Makam Panembahan Brajamusti yang terletak di Wasono Loyo dan makam Kyai Joyoilani, tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga pusat ziarah spiritual yang menyatukan warga dalam doa, pengingat sejarah, dan penanaman nilai-nilai luhur. Sebagai juru kunci, R. Purwita dan R. Eko Suryono secara rutin menjaga kelestarian makam dan melestarikan tradisi nyadran yang sarat makna religius dan sosial.

Dibalik Suksesnya aacara adalah berkat Kerja Keras dan Kepemimpinan Panitia
Keseluruhan rangkaian sukses digelar berkat kerja keras panitia di bawah komando Ketua Umum H. Muhammad Kurniawan, S.T. dan Jumar Slamet Sekertaris handal. Didampingi puluhan koordinator bidang dari konsumsi, keamanan, UMKM, kesehatan hingga dokumentasi panitia berhasil menghadirkan agenda skala besar tanpa hambatan berarti.

Dukungan dana sebesar Rp. 161.734.000 dihimpun dari iuran warga, bantuan pemerintah, partisipasi UMKM, dan sponsor. Dana tersebut dikelola transparan untuk mendukung seluruh aspek acara dari infrastruktur, seni pertunjukan, hingga konsumsi ribuan warga.

Lebih dari Sebuah Tradisi, Merti Dusun Gejayan 2025 adalah bukti bahwa sebuah dusun bisa berdikari lewat akar budayanya sendiri. Ia menjadi ruang bagi warga untuk menanamkan kebanggaan identitas, menghidupkan semangat kebersamaan, dan memutar roda ekonomi lokal. Di tengah gempuran globalisasi dan perubahan sosial, Gejayan menunjukkan bahwa desa bukan tempat yang ditinggal, tapi tempat untuk kembali, belajar, dan membangun masa depan.

“Merti Dusun ini bukan akhir, melainkan awal dari tekad kita semua untuk menjadikan Gejayan lebih dikenal, lebih berdaya, dan lebih membanggakan.” Ucap Ketua Panitia, H. Muhammad Kurniawan, S.T.,